Menelisik Sambutan Bupati Kabupaten Samosir Pada Tanggal 21 Desember 2016

JAKARTA | Togu-togu ni lombu andor hatiti, andor halumpang togu togu ni horbo, togu-togu on ma sitiopon naeng paborothon horbo manang lombu. Di punguan namar Situhu/Naraja siingoton manang sitiopon ima hata naung di patariparhon.

Hata naung taripar tu angka Raja manang situan natorop mengikat lobi sian uhum, dipados doi songon padan/janji dihabatahon, songon pandok ni situa tua.

“Togu pe urat ni bulu toguan do urat ni padang, Togu pe hata ni uhum toguan do hata ni padan”. 

Raja menjadi panutan akan memelihara kesamaan antara perkataan dan perbuatan, bukan lain dibibir lain dihati.

Audiensi dengan Bupati Samosir telah dilakukan oleh peserta Rapat Manik Raja se Indonesia di Lumban Manik Ambarita (5-6 November 2016) pada tanggal 6-11-2016 di Kantor Bupati Samosir.

Dari pertemuan dengan Bupati terdapat konsensus bahwa Bupati berjanji akan memfasilitasi atau memediasi perundingan antara kelompok yang setuju dengan Tugu di si Igarigar Rianiate, dengan yang tidak setuju dengan catatan bila pihak yang membangun Tugu tidak bersedia berunding maka Bupati tidak akan datang pada Peresmian.

Nyata-nyata tidak terjadi perundingan walaupun dari pihak yang tidak setuju atas bangunan Tugu telah berupaya menjemput bola dengan menghubungi Kepala Bagian Umum Kantor Bupati Samosir.

Namun nyatanya pada tanggal 21 Desember 2016 Bupati dan Wakil Bupati datang dan memberikan kata Sambutan pada Peresmian dan sekaligus memberi Sumbangan Rp. 5 juta.

Orang yang berjiwa besar menganggap hal itu bukan masalah besar dan tidak menjadi penghalang untuk terus menyuarakan kebenaran Sejarah dan Tarombo Op. Manik Raja. Namun tidak dapat dipungkiri terdapat catatan tersendiri bagi peserta Rapat di Lumban Manik Ambarita Samosir dan khalayak ramai yang telah menerima informasi itu.

Catatan itu yakni, “ndang sitiopon hata ni naso Raja naung dipatatiparhon”.
Pidato yang disampaikan oleh Bupati, terdapat hal yang mengusik pendengar yakni, memasuki permasalahan yang tidak dipahami dan disampaikan seperti berikut:

“….. hamu do na berbuat, molo na asing ndang binoto dope, na jelas hamu na berbuat nunga dipatuduhon hamu sebagai monumen ni parsadaon mu, jadi molo na asing menghayal dope… “

Pernyataan di atas memunculkan kontraversi dengan analisis berikut ini :

  1. Apakah dengan berbuat sudah merupakan tindakan yang dibenarkan, diterima sesuai kehendak akar rumput. Berbuat yang dapat diterima bila sesuai dengan nalar yang Objektif. Tidak semua perbuatan dapat diamini apalagi yang akan diteladani. Terdapat penekanan (stressing) seolah-olah perbuatan itu dapat diterima (accaptable), ini akan sangat berbahaya bagi yang menerimanya karena ada penyimpangan, dan sangat menyesatkan.
  2. “….naasing dang binoto dope,” ini dapat diartikan, kelompok lain (yang tidak sependapat) itu belum diketahui (belum ada wujud dari tugunya). Dengan gamblang maksud dari kalimat di atas, bahwa kelompok yang berseberangan belum berbuat apa apa untuk monumen Manik Raja, sedangkan yang telah meresmikan ini telah nyata tugunya, ini ada konotasi agar yang tidak sependapat dalam hal ini dapat merealisasikan tugu sendiri dengan demikian biarlah masing-masing membangun tugu. Pemda dalam hal ini bukan mengupayakan atau menyarankan adanya atau perlunya persatuan di pomparan Manik Raja yang dilambangkan dalam satu tugu, terlihat tidak ada kepedulian Bupati Samosir untuk bersatu pomparan Manik Raja
  3. “.. monumen Parsadaan muna ,..”. Parsadaan merupakan penggambaran kesatuan pomparan Manik Raja. Sangat ironis pada kenyataannya tugu tersebut membuat perpecahan bukan simbol pemersatu. Dengan diresmikan tugu dan direstui (ditolopi) oleh Pemda, terasa ada itikad tidak baik, yaitu memperlebar jurang perpecahan Pomparan Manik Raja, justru inilah yang seharusnya dihindari, yang diharapkan adalah upaya penyatuan kembali, senyatanya malah kebalikannya. Bupati seyogianya memahaminya secara sadar atau memang pura-pura tidak tahu, karena pernyataan telah disampaikan berupa surat mengenai sikap Manik Raja se Indonesia tidak mengakui Tugu yang di si Igarigar Rianiate yang mengatasnamakan tugu Manik Raja, disamping itu Bupati Samosir dengan peserta Rapat Manik Raja se Indonesia di Lumban Manik Ambarita telah datang beraudiensi mengenai masalah itu, bahkan Bupati memberikan saran seharusnya tarombo didahulukan daripada tugu.
  4. “… molo na asing menghayal dope ,”. kalimat ini sangat sarkastik, menyatakan bahwa yang bukan ikut atau tidak sependapat dengan bangunan tugu ini masih berangan-angan akan membangun tugu? Maksud dengan hayalan adalah ekspresi atau keinginan memiliki tugu yang sama, sepertinya dibuat tersirat suatu keirian bagi yang tidak ikut, karena tidak bisa atau tidak mampu untuk membangun. Suatu penggambaran marangan-angan (menghayal) bagi yang tidak sependapat akan tugu di SiIgarigar, merupakan konklusi yang tidak realistis dan bukan berdasarkan pengamatan dan pengolahan data atau fakta yang terjadi diakar rumput.

Kalau boleh dikatakan yang hadir / lkut berarti sependapat dengan tugu, berdasarkan data yang diterima yang datang menghadiri peresmian tugu dapat dihitung sebagai berikut: 

50 mobil x 8 orang = 400 orang+panitia 100 orang + dari Bonapasogit 100 orang + penumpang Bus parawisata 70 orang + yang tidak terekam 100 orang = Total 770 Orang.
Berarti masih banyak lagi akar rumput yang tidak hadir baik dari Samosir maupun ditanah perantauan.

Bila diasumsikan yang tidak datang adalah mereka yang tidak sependapat. Apakah dengan jumlah Pinompar Manik Raja yang tidak hadir sebegitu massive menghayal?, atau tidak mampu membangun tugu?, persoalan bukan disana, tetapi meletakkan dasar atau filosofi dari suatu bangunan tugu haruslah benar benar sesuai dengan yang seharusnya.

Perlu digarisbawahi upaya menyatukan pomparan Op. Manik Raja telah digiatkan dengan melakukan seminar meluruskan Sejarah dan Tarombo Op Manik Raja (di TMII tgl 10 Desember 2016) serta sosialisasi hasil seminar keseluruh Indonesia (yang pertama di Lubukpakam tgl 18 Desember 2016) agar terdapat proses pembelajaran serta pemahaman yang akurat tentang Op. Manik Raja, dengan pemahaman yang sama tidak dapat dipungkiri akan terjadi kebersamaan, karena akar masalah termasuk yang paling berpengaruh adalah ketidakpahaman Sejarah dan Tarombo, sehingga para akar rumput dapat diombangambingkan tanpa ada jangkar untuk menstabilkan yang merupakan pedoman.

Pada seminar yang telah dilakukan dihadiri Punguan Guru Tatea Bulan, Punguan Silauraja, Punguan Malau Raja, Punguan Ambarita Raja dan Punguan Gurning Raja, Punguan Damanik, Forum Komunikasi Pelestarian Situs-situs Silauraja, beserta Punguan Manik Raja se Indonesia berdasarkan wilayah-wilayah, seminar ini di prakarsai oleh Punguan Manik Raja Sejabodetabek.

Kesimpulan seminar Meluruskan Sejarah dan Tarombo Manik Raja:

  1. Sepakat Tinambor/golat/pemukiman ni Op Si Manik Raja di Sioma Salaon Dolok Ronggur ni huta, BUKAN di si Igar igar Rianiate.
  2. Tulang ni Op Si Manik Raja (Op boru Silauraja) bukan boru Simbolon melainkan Boru Bala Bulan (belum ada marga saat itu), jala hula hula ni Op Si Manik Raja (Op Boru Manik Raja) bukan Boru Siboro. Oppu Boru Manik Raja adalah Boru ni Tulangnya yaitu Boru Jau dari suku sekitar yang belum ada marga. Karena menurut Tarombo yang ada dari buku silsilah Batak, bahwa Silau Raja yaitu cucu dari Si Raja Batak adalah generasi ke tiga sedangkan marga Simbolon baru ada pada generasi ke delepan Sedangkan Op Si Manik Raja Generasi ke Empat sedangkan Marga Siboro baru ada pada generasi 13
  3. Keturunan Manik Raja yang ada di Rianiate adalah keturunan dari Ompu Partibisinomba yang asal sebelumnya dari Simanindo.
  4. Tugu yang dibangun di Si Igar igar Rianiate adalah bukan tugu yang mengatas namakan Manik Raja. (Tidak mengakui tugu yang dibangun sekelompok orang ďi SiIgar Igar Rianiate dengan mengatas namakan Tugu Manik Raja), dengan alasan bahwa tempat asal mula Op Manik Raja Martinambor/bermukim bukan di Si Igar Igar Rianiate apalagi tempat Malau Toruan diakui mereka sebagai tempat bermukim pertama. Tanah tempat Tugu diperoleh dengan membeli dari pihak ketiga/orang lain, saat in tempat itu sedang digugat Marga Malau di Pengadilan Negeri Balige. Disamping itu istri Op. Silauraja bukan boru Simbolon dan istri Op Si Manik Raja bukan boru Siboro)
  5. Akan dibentuk Komisi Tarombo dimana Komisi ini akan bertugas untuk mengumpulkan dan menyempurnakan tarombo dan sebagai pedoman adalah tarombo yang disusun oleh Ir. TB Manik, Alm. dan tarombo ini telah diteliti lebih kurang 50 tahun yang lalu. (Prototype taromba dimaksudkan dapat diadopsi karena lebih objektif dari berbagai Referensi, sampai dengan generasi yang ke 7 masih lebih berterima bagi pomparan Manik Raja )
  6. Perlu dilakukan Deklarasi DPP Punguan Manik Raja Se Indonesia yang telah dipilih oleh Tim Formateur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pengurus Punguan Manik Raja dan Boru Se Indonesia.